Inflasi Jambi Naik dari 3,71% ke 3,85%, Tekanan Harga Berubah pada 2026

Inflasi Jambi Naik dari 3,71% ke 3,85%.

JBCNEWS.ID – Tekanan harga di Provinsi Jambi masih berlanjut memasuki 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year on year (yoy) Jambi pada Juni 2026 mencapai 3,85 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi Desember 2025 yang berada di level 3,71 persen.

Kenaikannya memang relatif tipis, hanya 0,14 poin persentase. Namun, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga yang terbentuk sepanjang 2025 belum sepenuhnya mereda pada pertengahan 2026.

Bacaan Lainnya

Pada 2025, inflasi Jambi bergerak cukup fluktuatif. Inflasi tahunan pada awal tahun hanya 0,46 persen dan sempat mengalami deflasi 0,27 persen pada Februari. Tekanan harga kemudian meningkat hingga mencapai 3,77 persen pada September sebelum berada di 3,71 persen pada Desember.

Jika dilihat dari inflasi bulanan, Desember 2025 mencatat kenaikan harga sebesar 0,62 persen. Sementara pada Juni 2026, inflasi bulanan berada di 0,52 persen. Secara tahun berjalan, inflasi Jambi hingga Juni 2026 mencapai 1,79 persen.

Perubahan tekanan harga juga terlihat dari wilayah. Pada Juni 2026, Muara Bungo mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,72 persen, sementara Kota Jambi berada di 3,60 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga tidak sepenuhnya seragam antarwilayah.

Bank Indonesia mencatat kenaikan inflasi pada triwulan II 2026 terutama dipengaruhi kenaikan harga bensin serta keterbatasan pasokan sejumlah komoditas hortikultura setelah berakhirnya periode puncak panen. Dengan demikian, sumber tekanan harga pada 2026 memiliki dinamika yang berbeda dibandingkan pola sepanjang 2025.

Data 2025 menunjukkan beberapa kelompok pengeluaran mengalami kenaikan cukup tinggi. Pada Desember 2025, kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau mencatat inflasi tahunan 6,49 persen. Sementara Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencapai 10,14 persen dan Penyediaan Makanan dan Minuman sebesar 3,68 persen.

Memasuki Juni 2026, tekanan harga perlu dibaca bersama perubahan biaya energi dan pasokan pangan. Bagi dunia usaha, kondisi ini dapat memengaruhi biaya bahan baku, distribusi, harga jual hingga strategi promosi.

Menariknya, kenaikan inflasi terjadi ketika ekonomi Jambi tetap tumbuh. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jambi tumbuh 4,15 persen secara tahunan. Artinya, pertumbuhan ekonomi dan inflasi berjalan bersamaan, sehingga kondisi pasar tidak cukup dibaca hanya dari satu indikator.

Bagi pelaku usaha, pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah inflasi naik atau turun. Yang perlu diperhatikan adalah barang apa yang mengalami kenaikan harga, wilayah mana yang menghadapi tekanan terbesar, dan bagaimana perubahan tersebut memengaruhi perilaku konsumen.

Pos terkait