AS Tunjuk Indonesia Jadi Wakil Komandan ISF di Gaza, Ini Tugas dan Peran Strategisnya

Pemerintah Amerika Serikat secara resmi menunjuk Indonesia sebagai wakil komandan International Stabilization Force (ISF) yang akan dikerahkan ke Gaza, Palestina. Penunjukan tersebut diterima langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington DC

JBCNEWS.ID – Pemerintah Amerika Serikat secara resmi menunjuk Indonesia sebagai wakil komandan International Stabilization Force (ISF) yang akan dikerahkan ke Gaza, Palestina. Penunjukan tersebut diterima langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington DC.

Dalam forum internasional tersebut, Prabowo kembali menegaskan komitmen Indonesia untuk mengirimkan hingga 8.000 personel TNI guna bergabung dalam misi stabilisasi keamanan Gaza.

“Indonesia menerima permintaan menjadi deputy commander. Kami akan menunjuk perwira terbaik,” ujar Prabowo kepada wartawan seusai pertemuan.

Indonesia di Lingkar Inti Komando ISF

Komandan ISF, Mayor Jenderal Jasper Jeffers, menyebut Indonesia sebagai satu dari lima negara yang menyatakan kesiapan mengirim pasukan ke Gaza. Empat negara lainnya adalah Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania.

“Saya mengumumkan bahwa Indonesia telah menerima posisi Wakil Komandan ISF. Langkah awal ini penting untuk memulihkan keamanan di Gaza,” kata Jeffers di hadapan 47 perwakilan negara anggota Board of Peace.

Penunjukan ini menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam struktur kepemimpinan misi internasional yang digagas Presiden AS Donald Trump tersebut.

Apa Tugas Wakil Komandan ISF?

Sebagai wakil komandan, perwakilan Indonesia akan bertugas mendampingi Jeffers dalam memastikan pelaksanaan dan keberhasilan misi ISF. Tugas utama pasukan ini meliputi:

Menstabilkan situasi keamanan di Gaza, khususnya pascakonflik berkepanjangan.

Mengawal pembentukan pemerintahan sipil sesuai mandat Komite Nasional yang dibentuk Dewan Perdamaian.

Pasukan ISF direncanakan ditempatkan di lima sektor utama Gaza, yakni Rafah, Khan Yunis, Deir el-Balah, Gaza City, dan Gaza Utara. Dalam tahap awal, Rafah akan menjadi prioritas pengerahan pasukan.

“Target jangka panjang kami adalah membentuk 12.000 personel kepolisian dan 20.000 prajurit ISF,” ujar Jeffers.

Peran Regional dan Tantangan Politik

Mesir dan Yordania telah menyatakan komitmen membantu pembentukan serta pelatihan kepolisian Gaza. Namun, rencana stabilisasi ini masih menghadapi tantangan, termasuk isu pelucutan senjata Hamas dan kekhawatiran atas potensi pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.

Pemerintah Indonesia menegaskan keterlibatannya bersifat kondisional. Indonesia membuka kemungkinan menarik diri dari Board of Peace jika upaya tersebut tidak sejalan dengan tujuan utama, yakni mendorong kemerdekaan Palestina dan perdamaian berkelanjutan.

Penunjukan Indonesia sebagai wakil komandan ISF menandai peningkatan peran diplomasi dan militer Indonesia di panggung global, sekaligus menjadi ujian nyata komitmen politik luar negeri bebas aktif di tengah konflik Timur Tengah.

Pos terkait