JBCNEWS.ID – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (23/9/2026), ketika mayoritas mata uang Asia justru bergerak melemah. Pergerakan rupiah menjadi perhatian pasar karena terjadi bersamaan dengan agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 22-23 September 2026.
Mengacu pada data perdagangan yang dikutip CNBC Indonesia, rupiah menguat sekitar 0,12 persen ke level Rp17.829 per dolar AS pada pagi hari. Penguatan tersebut menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia dengan kinerja terkuat pada perdagangan pagi.
Pergerakan tersebut berlangsung ketika dolar AS masih berada pada level relatif tinggi. Indeks dolar AS atau DXY tercatat berada di sekitar 100,662, menguat 0,06 persen pada pagi hari.
Data Bank Indonesia menunjukkan nilai JISDOR pada 22 September 2026 berada di level Rp17.883 per dolar AS, naik dibandingkan Rp17.813 pada hari sebelumnya. Posisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih menjadi perhatian di pasar valuta asing.
Menanti Kebijakan Bank Indonesia
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada hasil RDG BI September. Bank Indonesia sebelumnya mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam RDG Agustus 2026, dengan Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
RDG September dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026. Dalam forum tersebut, BI mengevaluasi kondisi perekonomian, stabilitas sistem keuangan serta bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.
Sebelumnya, BI menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen pada Juni 2026. Langkah tersebut antara lain ditujukan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global dan menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen.
Tekanan Global Masih Membayangi
Selain kebijakan moneter domestik, pergerakan rupiah masih dipengaruhi perkembangan dolar AS, harga energi dan kondisi geopolitik global.
Harga minyak mentah Brent yang berada mendekati US$100 per barel juga menjadi perhatian karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi. Di sisi lain, arah kebijakan bank sentral AS dan perkembangan konflik geopolitik masih menjadi faktor yang diperhatikan investor dalam menentukan posisi di pasar valuta asing.
Bagi dunia usaha, pergerakan rupiah memiliki dampak berbeda tergantung struktur biaya bisnis. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang modal, sementara penguatan rupiah dapat memberikan ruang lebih besar bagi pelaku usaha yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam dolar AS.






