JBCNEWS.ID – Polemik ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, di Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memanas setelah pihak Masjid Kampus UGM akhirnya buka suara menanggapi tudingan penistaan agama yang dilayangkan sejumlah pihak.
Ceramah yang disampaikan JK dalam forum Ramadan Public Lecture pada 5 Maret 2026 itu kini menjadi sorotan publik setelah cuplikan video beredar luas di media sosial dan memicu perdebatan.
Melalui kolom komentar resmi kanal YouTube, admin Masjid Kampus UGM menegaskan agar masyarakat tidak menilai ceramah hanya dari potongan video yang viral.
“Jemaah sekalian, kami mohon menyimak video secara utuh, bukan hanya potongan-potongan yang beredar,” tulis pihak masjid.
Pihak masjid menekankan bahwa pemotongan konteks dapat menimbulkan kesalahpahaman, terutama jika isi pembicaraan tidak dipahami secara menyeluruh.
Di sisi lain, GAMKI bersama sejumlah organisasi keagamaan melaporkan JK ke pihak kepolisian. Mereka menilai adanya pernyataan dalam ceramah tersebut yang dianggap menyinggung dan berpotensi menimbulkan kegaduhan.
Polemik ini mencuat setelah potongan pernyataan JK terkait konflik Poso dan Ambon dinilai sebagian pihak mengandung istilah yang dipersoalkan dan dianggap sensitif secara teologis.
Melalui juru bicaranya, JK menegaskan bahwa tuduhan penistaan agama tidak benar. Ia menyebut video yang beredar telah mengalami context cutting atau pemotongan konteks sehingga makna asli tidak tersampaikan secara utuh.
Menurut pihak JK, dalam ceramah tersebut ia justru menekankan bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan, serta mengulas upaya perdamaian konflik Poso dan Ambon pada awal 2000-an.






