JBCNEWS.ID- Pemerintah Iran mengumumkan penutupan sementara wilayah udaranya untuk hampir seluruh penerbangan di tengah meningkatnya ketegangan domestik akibat demonstrasi anti-pemerintah yang meluas di berbagai wilayah negara tersebut.
Dalam pernyataan resmi Otoritas Penerbangan Sipil Iran, disebutkan bahwa pembatasan penerbangan berlaku hingga 15 Januari waktu setempat. Hanya penerbangan sipil internasional yang memperoleh persetujuan khusus yang diizinkan untuk masuk dan keluar wilayah udara Iran.
“Pembatasan berlaku untuk penerbangan yang masuk atau keluar Iran, sementara semua lalu lintas udara lainnya ditangguhkan,” demikian pernyataan otoritas penerbangan Iran yang dikutip Anadolu Agency.
Penutupan wilayah udara ini dilakukan di tengah situasi keamanan yang memanas, baik akibat tekanan domestik dari gelombang demonstrasi besar-besaran maupun meningkatnya sorotan internasional terhadap kondisi Iran.
Demonstrasi yang berlangsung sejak 28 Desember lalu awalnya dipicu oleh krisis ekonomi, inflasi tinggi, dan anjloknya nilai mata uang rial. Namun, aksi protes kemudian berkembang menjadi tuntutan politik terhadap pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pemerintah tidak merencanakan hukuman gantung terhadap para demonstran dalam waktu dekat. Ia menegaskan situasi mulai berangsur terkendali setelah sepuluh hari aksi damai dan tiga hari kekerasan.
“Saya dapat memberi tahu Anda, saya yakin bahwa tidak ada rencana untuk hukuman gantung hari ini atau besok,” kata Araghchi, dikutip AFP.
Pernyataan tersebut disambut dengan respons dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim bahwa eksekusi terhadap para pengunjuk rasa telah dihentikan. Trump juga menegaskan Washington akan memantau perkembangan situasi di Iran secara ketat.
Sebelumnya, Trump menyatakan Amerika Serikat siap mengambil tindakan keras jika Iran melanjutkan eksekusi terhadap demonstran. Iran sendiri menuding AS dan Israel berada di balik kerusuhan dan aksi teror yang berkaitan dengan demonstrasi tersebut, tudingan yang dibantah oleh negara-negara Barat.
Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis angka resmi korban jiwa. Sejumlah kelompok hak asasi manusia melaporkan ribuan orang tewas dan terluka akibat bentrokan selama demonstrasi. Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen karena pemblokiran internet yang masih berlangsung di Iran.
Penutupan wilayah udara ini menambah kekhawatiran internasional terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.






