Kabut Asap Jambi Makin Pekat, Kasus ISPA Tembus 5.700 per Pekan

FOTO/ILSUTRASI: Warga berobat di puskesmas, keluhkan sesak nafas akibat kabut asap.

JBCNEWS.ID – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Provinsi Jambi mengalami peningkatan di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Data Dinas Kesehatan Provinsi Jambi menunjukkan kasus ISPA di daerah itu meningkat sekitar 15 persen setiap pekan dalam empat pekan terakhir. Jumlah kasus yang sebelumnya berada di kisaran 5.000 kasus per pekan, kini meningkat menjadi sekitar 5.700 kasus per pekan.

Bacaan Lainnya

Kenaikan tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas karhutla dan memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Jambi.

Meski demikian, peningkatan kasus ISPA tidak serta-merta dapat seluruhnya dikaitkan dengan kabut asap. ISPA merupakan penyakit yang dapat dipengaruhi berbagai faktor, sementara paparan partikulat dari asap karhutla dapat memperburuk gangguan saluran pernapasan.

Dinas Kesehatan Kota Jambi mencatat 1.955 kasus ISPA dalam satu pekan. Angka tersebut meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka sekitar 1.700-an kasus.

Dinkes Kota Jambi kemudian meningkatkan pemantauan kasus ISPA dari sebelumnya dilakukan secara mingguan menjadi pemantauan harian. Langkah tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan kasus seiring kondisi kualitas udara yang memburuk.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kabut asap dapat meningkatkan paparan partikulat halus, terutama PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Peningkatan kasus ISPA terjadi ketika sejumlah wilayah Jambi menghadapi kabut asap akibat karhutla.

Data penanganan karhutla menunjukkan Jambi masih menghadapi titik panas dan kebakaran lahan di sejumlah kabupaten. Kondisi angin, cuaca kering dan keberadaan lahan gambut membuat risiko penyebaran asap masih perlu diwaspadai.

Kualitas udara yang memburuk juga telah berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Sejumlah pemerintah daerah mengambil langkah untuk mengurangi paparan terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak.

Di Kota Jambi, misalnya, pemerintah daerah menerapkan pembelajaran dari rumah selama beberapa hari sebagai langkah antisipasi dampak kualitas udara terhadap kesehatan peserta didik.

Kementerian Kesehatan sebelumnya juga mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan akibat asap.

Kelompok yang paling rentan antara lain bayi, balita, lansia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit jantung.

Masyarakat juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi asap memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker yang menutup hidung dan mulut menjadi salah satu langkah perlindungan.

Warga yang mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, nyeri dada atau gejala lain yang semakin berat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Dengan kasus ISPA yang kini berada di kisaran 5.700 kasus per pekan, perkembangan kualitas udara dan karhutla menjadi faktor yang perlu terus dipantau. Pemerintah dan masyarakat perlu memastikan peningkatan gangguan pernapasan tidak berkembang menjadi tekanan kesehatan yang lebih luas.

Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Dinas Kesehatan Kota Jambi dan Kementerian Kesehatan.

Pos terkait