Darurat Kesehatan di Serambi Makkah

Foto : Warga berjalan melewati kendaraan yang hancur di area terdampak banjir bandang di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Sumatera, Indonesia, Kamis (04/12/2025). (AP/Binsar Bakkara)

JBCNEWS.ID – Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh menyebabkan lumpuhnya layanan kesehatan. Sedikitnya 132 fasilitas pelayanan kesehatan dilaporkan rusak, terdiri atas 11 rumah sakit dan 121 puskesmas. Kondisi terparah terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang, di mana sebagian besar puskesmas tidak lagi dapat beroperasi.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tamiang Mustaqim mengatakan, dari total 15 puskesmas yang ada di wilayah tersebut, hanya tiga puskesmas yang masih bisa memberikan pelayanan meski berada di kawasan terdampak banjir. Sementara itu, 12 puskesmas lainnya kolaps dan tidak dapat berfungsi sama sekali.

Banjir juga berdampak langsung pada 1.232 tenaga kesehatan. Dalam situasi darurat, Dinas Kesehatan Aceh Tamiang membuka akses bantuan dari luar daerah dan mendirikan posko-posko kesehatan di lokasi pengungsian. Hingga saat ini, jumlah posko kesehatan yang beroperasi mencapai sekitar 64 titik.

“Kami pelan-pelan membangunkan posko, mulai dari awalnya tiga, kemudian delapan, sampai per hari ini jumlahnya sudah sekitar 64,” ujar Mustaqim.

Penyakit yang paling banyak diderita para pengungsi antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, diare, dan tifus. Selain itu, banyak pula kasus luka akibat pecahan kaca dan paku yang terbawa banjir.

Untuk menangani pasien dengan kondisi berat, Dinas Kesehatan Aceh Tamiang menyiapkan layanan triase di beberapa titik, termasuk di Klinik Abah, Medical Pegadaian di ujung Jembatan Kuala Simpang, serta Rumah Sakit Umum Daerah setempat.

Dari sisi logistik, banjir merusak sekitar 45 persen persediaan obat di gudang farmasi Dinkes Aceh Tamiang. Kondisi ini menyebabkan stok obat semakin menipis, sementara kebutuhan pelayanan kesehatan di ratusan titik pengungsian masih berlangsung.

“Untuk menyuplai ratusan titik pengungsian secara berkelanjutan, kami masih membutuhkan bantuan obat-obatan,” kata Mustaqim.

Kementerian Kesehatan turut mengerahkan ratusan tenaga kesehatan ke wilayah terdampak. Juru bicara Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, fokus perbantuan kesehatan saat ini diarahkan ke Aceh karena banyak fasilitas kesehatan yang masih lumpuh.

Selain tenaga medis, Kemenkes menyalurkan obat-obatan, vaksin, bahan medis habis pakai, hingga bantuan logistik kesehatan lainnya. Perangkat komunikasi satelit juga dikirimkan untuk mendukung koordinasi darurat di daerah yang terputus jaringan.

Bencana banjir dan longsor tidak hanya melumpuhkan fasilitas kesehatan, tetapi juga mengisolasi sejumlah wilayah. Di beberapa daerah terpencil, tenaga kesehatan terjebak akibat akses jalan yang terputus total. Meski demikian, pelayanan kesehatan tetap diupayakan berjalan di tengah keterbatasan, dengan dukungan relawan dan masyarakat setempat.

Pemerintah pusat dan daerah terus berupaya mempercepat pemulihan layanan kesehatan sekaligus mencegah munculnya wabah penyakit di tengah kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih.

Pos terkait