JBCNEWS.ID – Tanjung Jabung Barat memiliki salah satu basis ekonomi perkebunan yang cukup kuat di Provinsi Jambi. Pada 2026, pengembangan kawasan kelapa kembali mendapat perhatian melalui program pemerintah yang mencakup perluasan dan peremajaan tanaman.
Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jambi mencatat calon petani dan calon lokasi atau CPCL untuk komoditas kelapa dalam di Tanjung Jabung Barat mencapai 4.900 hektare. Angka tersebut terdiri dari perluasan 342 hektare dan peremajaan 4.559 hektare.
Pada Agustus 2026, BRMP Jambi menyebut sebanyak 3.900 hektare dari target peremajaan telah diverifikasi, sementara sisanya masih dalam proses penyelesaian. Penanaman untuk program tersebut direncanakan mulai September 2026.
Besarnya luasan tersebut menunjukkan bahwa kelapa bukan sekadar komoditas pertanian bagi Tanjung Jabung Barat. Komoditas ini memiliki potensi membentuk rantai bisnis yang panjang.
Di tingkat hulu, aktivitas ekonomi muncul dari penyediaan bibit, pupuk, alat pertanian, jasa tenaga kerja dan transportasi. Setelah produksi, kebutuhan berkembang ke pengumpulan, pengangkutan, penyimpanan, pengolahan dan distribusi.
Di sinilah peluang bisnis hilir menjadi penting.
Kelapa dapat diolah menjadi berbagai produk dengan nilai tambah lebih tinggi dibandingkan menjual bahan mentah. Produk turunannya antara lain minyak kelapa, santan, kelapa parut, arang tempurung, briket, serat kelapa hingga berbagai produk pangan.
Artinya, peningkatan produksi belum otomatis berarti peningkatan nilai ekonomi jika rantai pengolahannya belum berkembang.
BRMP Jambi juga melakukan pengecekan lapangan terhadap kondisi tanaman kelapa yang terdampak banjir. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam kegiatan peremajaan agar produktivitas perkebunan dapat dipertahankan.
Bagi pelaku usaha, kondisi ini memberikan perspektif berbeda dalam membaca potensi Tanjung Jabung Barat. Peluang tidak selalu berada pada aktivitas menanam atau menjual komoditas.






