JBCNEWS.ID – “Manusia ko kan macem-macem. Ado yang senang dengan awak, ado yang dak senang. Dak bisa awak membuat semua orang tuh senang dengan kito ko, pasti adolah tuh.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada tenang oleh Ferry Fadly, seorang penata rambut dan perias wajah yang telah lama berkecimpung di industri kecantikan. Bagi Ferry, dinamika penerimaan sosial bukan hal baru. Ia telah lama belajar berdamai dengan pandangan orang lain, terutama di lingkungan tempat ia tumbuh dan bekerja.
Lahir pada tahun 1990 di Rengas Bandung, Ferry merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Sejak kecil, ia menyadari pembawaan dirinya yang kerap dianggap berbeda. Meski pada awalnya pilihan hidupnya tampak seperti terbawa arus pekerjaan, pengalaman itu sejatinya telah ia rasakan jauh sebelum mengenal dunia tata kecantikan.
Navigasi Ekspresi Diri dan Profesi
Sekitar tahun 2010, Ferry mulai mendalami dunia tata rambut dan rias wajah. Seiring proses itu, ia menampilkan ekspresi diri yang lebih feminin dalam kesehariannya. Pilihan tersebut, menurut Ferry, berkelindan antara ekspresi personal dan kebutuhan profesional.
Dalam pekerjaannya, pendekatan yang lembut sering kali menciptakan rasa nyaman bagi pelanggan, terutama perempuan, termasuk mereka yang mengenakan hijab. Penampilan menjadi bagian dari cara membangun kepercayaan. Respons keluarga terhadap perubahan tersebut sempat beragam, namun perlahan mereka memberi ruang bagi Ferry untuk berproses dan menentukan jalannya sendiri.
Bertahan di Tengah Tantangan Sosial
Tumbuh di lingkungan dengan standar maskulinitas konvensional membuat Ferry akrab dengan pengalaman perundungan sejak masa sekolah. Meski demikian, ia memilih untuk tidak menjauh dari desa kelahirannya. Baginya, bertahan dan tetap bekerja di ruang yang ia kenal justru menjadi bentuk keteguhan.
“Iko kan dusun kelahiran aku. Jadi sikolah awak. Nak kayak mano pun orang tuh, asal dio dak ado di depan awak. Nak di belakang awak ngato awak, dak papolah,” ujarnya.
Kalimat itu mencerminkan sikap Ferry yang memilih fokus pada hidupnya sendiri, tanpa harus terus-menerus membebani diri dengan penilaian orang lain.
Meniti Jalan Mandiri
Pada 2013, Ferry mulai bekerja di Desa Tunas Muda, menapaki dunia kecantikan secara lebih serius. Beberapa tahun kemudian, sejak 2019, ia membuka salon sederhana yang berlokasi di depan sebuah pom bensin. Selama empat tahun, tempat itu menjadi ruang bertumbuh bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara personal.
Pada 2022, Ferry akhirnya menetap kembali di Rengas Bandung dan melanjutkan usahanya tak jauh dari SMA Negeri 8 Muaro Jambi. Di desa ini, ia membangun salonnya dengan kesadaran penuh akan kondisi sosial di sekitarnya.
Dalam menjalankan usahanya, Ferry memilih menyesuaikan penampilan dengan lingkungan tempat ia bekerja. Ia bersikap hati-hati, mengingat ekspresi gender tertentu masih menjadi hal yang sensitif bagi sebagian masyarakat desa. Pilihan itu bukan ia maknai sebagai penyangkalan diri, melainkan sebagai strategi bertahan agar tetap bisa bekerja, hidup, dan diterima di ruang sosialnya.
Kemandirian Ekonomi dan Kedewasaan Diri
Seiring berjalannya waktu, Ferry menyesuaikan kembali penampilannya dalam keseharian, sejalan dengan proses pendewasaan dan fokus pada kemandirian ekonomi. Setelah sempat bekerja dengan orang lain, ia kini menjalankan usahanya sendiri sebuah capaian yang ia bangun perlahan, dengan kesadaran akan risiko dan realitas sosial di sekitarnya.
Baginya, kemandirian bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga tentang memiliki kendali atas hidup sendiri.
“Waktu yang sudah berlalu biarlah berlalu. Fokus ke masa depan, jangan lihat ke belakang terus. Nanti jatuh ke lubang yang sama,” ujar Ferry Padli.
Di tengah berbagai pandangan, Ferry terus menenun ruang amannya sendiri sebuah ruang untuk bekerja, berproses, dan hidup dengan martabat yang setara di tanah yang ia sebut rumah.
