JBCNEWS.ID – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Kota Jambi, masih banyak orang yang hidup dalam kesendirian. Sebagian kehilangan keluarga, sebagian lainnya berjuang dengan gangguan kesehatan mental yang sering kali membuat mereka dijauhi masyarakat. Namun, di balik realitas itu, hadir sekelompok anak muda yang memilih untuk mendekat, mendengar, dan merangkul.
Adalah Yayasan Merangkul Jiwa Jambi (MJJ), sebuah gerakan sosial yang lahir dari kepedulian terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan orang-orang terlantar. Dipimpin oleh Melisa Try Andani, yayasan ini hadir dengan semangat sederhana namun kuat: memanusiakan manusia.
“Siapa lagi kalau bukan kita?” ujar Melisa saat menceritakan visi yang menjadi dasar berdirinya yayasan tersebut.
Meski baru berdiri dalam hitungan bulan, langkah yang ditempuh MJJ terbilang nyata. Bersama para relawan, mereka turun langsung ke lapangan untuk membantu mengevakuasi ODGJ yang membutuhkan penanganan maupun orang-orang terlantar yang tidak memiliki keluarga. Setelah dievakuasi, mereka kemudian diarahkan ke instansi terkait seperti Dinas Sosial dan Rumah Sakit Jiwa agar mendapatkan pendampingan yang layak.
Menurut Melisa, kesadaran masyarakat Jambi terhadap isu kesehatan mental perlahan mulai tumbuh. Masyarakat kini lebih terbuka dan tidak lagi sepenuhnya memandang ODGJ sebagai ancaman. Namun demikian, stigma masih menjadi tantangan yang harus terus dihadapi melalui edukasi dan pendekatan kemanusiaan.
“Tidak semua ODGJ itu meresahkan. Mereka juga manusia yang membutuhkan perhatian dan bantuan,” katanya.
Berbeda dari organisasi sosial pada umumnya, MJJ berusaha menarik keterlibatan anak muda melalui kegiatan-kegiatan yang lebih dekat dengan pengalaman langsung. Para relawan diajak mengunjungi panti sosial, berinteraksi dengan penghuni panti, hingga mengikuti berbagai kegiatan kemanusiaan yang berbeda setiap bulannya.
Pendekatan tersebut ternyata memberikan dampak yang besar, terutama bagi para relawan yang sebelumnya merasa kurang percaya diri atau bahkan mengaku sebagai pribadi introvert.
Melisa mengungkapkan bahwa banyak relawan yang awalnya ragu untuk bergabung karena merasa tidak memiliki pengalaman dalam kegiatan sosial. Namun setelah terlibat secara langsung, mereka menemukan pengalaman baru yang mengubah cara pandang mereka terhadap diri sendiri maupun orang lain.
“Ada yang awalnya bilang dirinya introvert. Setelah ikut kegiatan, mereka jadi lebih berani, lebih terbuka, dan lebih peduli terhadap sesama,” ujarnya.
Bagi Melisa, keberhasilan sebuah gerakan sosial tidak hanya diukur dari jumlah bantuan yang diberikan, tetapi juga dari perubahan yang terjadi pada orang-orang yang terlibat di dalamnya. Hingga saat ini, MJJ telah membantu mengevakuasi hampir 20 ODGJ dan orang terlantar di wilayah Jambi.
Angka tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun di balik setiap proses evakuasi, ada kehidupan yang kembali diperhatikan, ada martabat yang kembali dihargai, dan ada harapan yang kembali tumbuh.
Melalui Yayasan Merangkul Jiwa Jambi, Melisa dan para relawan membuktikan bahwa kepedulian tidak harus dimulai dari hal besar. Kadang, perubahan berawal dari keberanian untuk mendekat kepada mereka yang selama ini dijauhkan.
Di tengah dunia yang sering kali sibuk dengan urusan masing-masing, MJJ hadir sebagai pengingat bahwa kemanusiaan masih hidup. Bahwa setiap orang berhak dirangkul, didengar, dan diperlakukan sebagai manusia.
Karena pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang seharusnya berjuang sendirian.






