Dampak Konflik Timur Tengah, 8,8 Juta Warga Asia Pasifik Terancam Jatuh Miskin

Laporan terbaru dari United Nations Development Programme (UNDP) mengungkapkan, sekitar 8,8 juta orang di kawasan Asia Pasifik berisiko jatuh ke dalam kemiskinan akibat dampak lanjutan konflik tersebut.

JBCNEWS.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran mulai memberi dampak serius terhadap kondisi ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Tekanan terjadi pada berbagai sektor, mulai dari energi hingga daya beli masyarakat.

Laporan terbaru dari United Nations Development Programme (UNDP) mengungkapkan, sekitar 8,8 juta orang di kawasan Asia Pasifik berisiko jatuh ke dalam kemiskinan akibat dampak lanjutan konflik tersebut.

Analisis awal UNDP menunjukkan, gejolak global ini memicu tekanan pada pendapatan rumah tangga, konsumsi, serta lapangan kerja. Dampaknya dirasakan luas, terutama oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu dampak paling cepat terasa. Gangguan pasokan minyak dan gas global, khususnya yang melintasi Selat Hormuz, membuat biaya hidup meningkat signifikan.

Lebih dari 80 persen distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari jalur tersebut ditujukan ke pasar Asia. Kondisi ini menjadikan kawasan Asia Pasifik sangat rentan terhadap gejolak harga energi.

Efek berantai pun terjadi, mulai dari kenaikan biaya transportasi, listrik, hingga harga pangan dan pupuk yang semakin membebani masyarakat.

UNDP mencatat, kelompok paling terdampak meliputi pekerja informal, pelaku usaha kecil, migran, serta rumah tangga berpenghasilan rendah. Dalam situasi ini, perempuan menjadi kelompok dengan tingkat kerentanan paling tinggi.

Secara keseluruhan, potensi kerugian ekonomi di kawasan diperkirakan mencapai USD 97 miliar hingga USD 299 miliar, atau sekitar 0,3 hingga 0,8 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB).

Dari sisi wilayah, Asia Selatan diproyeksikan mengalami dampak paling besar. Sementara itu, Asia Timur dan Asia Tenggara dinilai relatif lebih mampu menahan tekanan, meski tetap menghadapi risiko peningkatan ketidakpastian ekonomi.

Sejumlah negara telah mengambil langkah antisipasi, seperti memberikan subsidi energi, menjaga stabilitas harga, hingga mendorong efisiensi penggunaan energi.

Asisten Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Direktur Regional UNDP untuk Asia dan Pasifik, Kanni Wignaraja, menyatakan bahwa dampak konflik sudah terasa lebih cepat dibandingkan respons kebijakan.

“Ketidakpastian global memaksa negara menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga dan melindungi kelompok rentan,” ujarnya.

Namun di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang bagi negara untuk memperkuat ketahanan jangka panjang, seperti diversifikasi energi dan penguatan sistem perlindungan sosial.

“Ini menjadi ujian bagi negara untuk mampu beradaptasi cepat dalam melindungi pembangunan manusia di tengah situasi global yang tidak pasti,” pungkasnya.

Pos terkait