JBCNEWS.ID – Rencana impor kendaraan niaga CBU asal India untuk kebutuhan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menuai kritik dari sisi teknis. Pasalnya, pikap yang akan didatangkan diyakini telah mengusung standar emisi setara Euro 6, sementara bahan bakar diesel yang sesuai belum tersedia di Indonesia.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai ada potensi persoalan serius bila spesifikasi mesin tidak disesuaikan dengan kualitas BBM domestik. Menurutnya, kendaraan Bharat Stage VI (BS-VI) setara Euro 6 menuntut solar sulfur sangat rendah (≤10 ppm) dan presisi tinggi.
Sementara itu, Indonesia baru menerapkan standar Euro 4 untuk diesel sejak 2022. BBM diesel terpopuler, Biosolar B40, memiliki kandungan sulfur hingga 50 ppm dan mengandung campuran biodiesel yang berpotensi tidak kompatibel dengan mesin Euro 6 yang sensitif.
Salah satu model yang disebut akan diimpor adalah Mahindra & Mahindra Scorpio Pikap bermesin 2.2L mHawk turbo diesel. Mesin ini dinilai membutuhkan solar murni berkualitas tinggi, sehingga berisiko bermasalah jika langsung menggunakan Biosolar B40.
Yannes menyarankan, bila impor tetap dilanjutkan, perlu modifikasi sektor mesin dan komponen agar kompatibel dengan BBM Indonesia. Tanpa penyesuaian, efisiensi harga beli (CAPEX) dikhawatirkan habis oleh biaya perawatan tinggi (OPEX) dan gangguan operasional.






