JBCNEWS.ID – Ribuan warga di Teheran turun ke jalan pada Minggu (19/4/2026) untuk menyatakan dukungan terhadap sikap pemerintah yang menolak melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat.
Dalam aksi tersebut, para demonstran menyuarakan ketidakpercayaan terhadap komitmen Washington. Mereka menilai berbagai kesepakatan sebelumnya tidak pernah benar-benar dipenuhi oleh pihak AS.
Salah satu peserta aksi, Masoumeh Alimohammadi, mengatakan bahwa negaranya tidak lagi bisa mengandalkan janji-janji dari AS. Ia menegaskan bahwa meski jalur diplomasi tetap terbuka, Iran harus bersikap waspada dan tidak mudah percaya.
Pemerintah Iran sendiri dilaporkan tidak akan menghadiri perundingan lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (20/4/2026). Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan, hanya beberapa hari sebelum masa gencatan senjata berakhir pada 22 April.
Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan insiden penembakan terhadap kapal Iran di sekitar Selat Hormuz. Selain itu, blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran turut memperburuk hubungan kedua negara.
Seorang warga lainnya, Hamidreza Heidari, menyatakan bahwa rakyat Iran tidak gentar menghadapi ancaman militer. Ia menegaskan bahwa negaranya akan tetap berdiri kuat jika serangan terus terjadi.
Senada dengan itu, Negin Gholizade juga menyerukan agar pemerintah tetap bersikap tegas terhadap AS. Ia bahkan meyakini bahwa tekanan kuat dari Iran dapat memaksa Washington untuk mengikuti tuntutan Teheran.






