Menakar Wajah Baru Piala Dunia 2026: Romantisme Inklusivitas atau Ambisi Kapitalisme FIFA

FIFA World Cup 2026 stadium match poster. Sumber: secretsanfrancisco.com

JBCNEWS.ID- Piala Dunia selalu berhasil menghentikan waktu global setiap empat tahun. Ia bukan sekadar turnamen; ia adalah panggung tempat nasionalisme, air mata, dan keajaiban bertemu. Tapi menjelang Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sebuah pertanyaan besar mulai mengganggu. FIFA memutuskan merombak format dari 32 menjadi 48 tim, dan perdebatannya sudah jauh melampaui lapangan. Apakah ini soal inklusivitas, atau cara lain FIFA memperbesar kantong?

Untuk pertama kalinya, akan ada 104 pertandingan dalam satu bulan, naik jauh dari 64 sebelumnya. Di atas kertas, itu seperti pesta bagi penggemar. Tapi lebih banyak pertandingan tidak otomatis berarti lebih baik. Format 32 tim yang dipakai sejak 1998 sudah menemukan keseimbangannya sendiri, di mana setiap tim yang maju ke fase grup memang layak ada di sana, dan setiap laga punya bobot yang terasa.

Dengan 16 slot tambahan, kekhawatiran paling masuk akal adalah inflasi kualitas di fase grup. Kemungkinan besar kita akan menyaksikan laga-laga timpang antara raksasa dunia dan tim yang lolos semata karena kuota wilayahnya diperbesar. Skor mencolok berulang kali bisa menggerus daya tarik Piala Dunia itu sendiri, mengubahnya menjadi festival olahraga biasa yang justru melelahkan diikuti.

Lalu ada soal fisik yang lebih konkret. Para pemain terbaik dunia tiba di Amerika Utara sudah dalam kondisi habis diperas liga domestik dan kompetisi Eropa. Memaksa mereka melewati babak tambahan baru, Babak 32 Besar, dengan durasi turnamen yang lebih panjang dari sebelumnya, adalah tekanan nyata terhadap tubuh manusia. Bukan hanya risiko cedera, tapi kelelahan yang efeknya bisa terasa bertahun-tahun.

Faktor geografisnya juga tidak main-main. Tiga negara tuan rumah berarti sebuah tim bisa bertanding di Vancouver yang dingin, lalu beberapa hari kemudian terbang ke Mexico City yang panas di dataran tinggi. Selain kelelahan fisik bagi pemain, ada jejak karbon besar dari jutaan penerbangan suporter dan staf tim. Sulit untuk tidak melihat ini sebagai keputusan yang abai, tapi memang begitulah FIFA bekerja sudah lama.

Tapi mengutuk perubahan ini mentah-mentah juga tidak jujur. Bagi banyak negara di luar lingkaran Eropa dan Amerika Selatan, format 48 tim membuka peluang yang selama ini nyaris tidak ada. AFC dan CAF harus berebut slot yang sangat terbatas, tidak peduli seberapa jauh sepak bola di wilayah mereka berkembang. Format baru ini punya potensi mengubah itu.

Dampaknya bisa terasa sampai ke akar. Ketika lolos ke Piala Dunia terasa lebih mungkin, pemerintah dan investor lebih terdorong membangun akademi, stadion, dan kompetisi lokal yang layak. Sepak bola memang bukan milik siapa-siapa secara eksklusif, meskipun selama ini sering terasa seperti itu.

Ada juga soal romantisme yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Momen paling diingat dalam sejarah turnamen ini sering lahir dari tim yang tidak diperhitungkan. Maroko di Qatar. Korea Selatan tahun 2002. Dengan 48 negara, peluang kejutan semacam itu terbuka lebih lebar. Babak 32 besar membuat setiap laga terasa seperti ujian mati-hidup. Satu hari buruk bagi tim besar bisa berarti pulang lebih awal, dan satu hari magis bagi tim kecil bisa jadi cerita yang diceritakan anak cucu.

Soal motif FIFA, jujur saja, tidak ada yang perlu berpura-pura. Hak siar yang membengkak, tiket yang terjual lebih banyak, kontrak sponsor baru bernilai miliaran dolar. Sepak bola sudah lama bukan sekadar olahraga rakyat; ia sudah menjadi industri global yang bergerak dengan logika bisnis yang dingin.

Tapi apakah itu otomatis buruk, kalau pada saat bersamaan lebih banyak negara punya kesempatan bermain di panggung tertinggi? Di situlah Piala Dunia 2026 berdiri di antara dua argumen yang sama-sama tidak salah sepenuhnya. Turnamen ini akan jadi ujian besar, bukan hanya bagi pemain, tapi bagi kemampuan FIFA mengelola sesuatu yang makin raksasa dan makin rumit. Kita mungkin akan gerutu melihat laga fase grup yang datar. Tapi ketika lagu kebangsaan negara yang baru pertama kali lolos berkumandang, kemungkinan besar kita masih akan duduk terpaku di depan layar, dan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa sihir itu belum benar-benar pergi.

Pos terkait