Semangat Waisal, Mahasiswa Tunanetra Yang Menemukan Dunia Lewat Musik

Semangat Waisal, Mahasiswa Tunanetra Yang Menemukan Dunia Lewat Musik

JBCNEWS.ID – Di balik jemari yang menari di atas tuts piano, tersimpan keteguhan seorang mahasiswa tunanetra bernama Muhammad Waisal Alkorni. Ia adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam semester 3, yang tetap konsisten menyeimbangkan dunia akademik dan kecintaannya pada musik. Waisal menemukan makna hidup melalui denting piano yang kini menjadi bagian penting dari perjalanan dan identitas dirinya.

Sejak usianya menginjak lima belas tahun, Waisal menemukan dunia lain di balik deretan tuts hitam putih. Baginya, piano bukan sekadar alat musik, melainkan bahasa yang menyampaikan perasaan saat kata-kata tak lagi cukup.

Bacaan Lainnya

Ketika ditanya tentang harapannya kepada masyarakat agar lebih memahami dirinya sebagai penyandang disabilitas, Waisal tersenyum. Ia menjawab singkat, namun penuh makna.

“Kalau saya, lebih suka orang memahami saya lewat musik,” Tuturnya dengan semangat.

Baginya, nada dan irama jauh lebih fasih berbicara daripada kata-kata. Melalui musik, ia ingin menunjukkan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk berkarya dan dimengerti.

Ketika duduk di bangku kelas dua SMP di SLBN Sri Sudewi, saat teman-temannya mencoba berbagai instrumen,Waisal justru mantap menambatkan hatinya pada tuts-tuts yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Bersama teman-teman di Diksus Band Sri Sudewi, ia mulai tampil di berbagai acara. Salah satu momen yang paling ia kenang adalah ketika Diksus Band tampil di Festival Band di Taman Remaja Jambi.

Langkahnya tak berhenti disitu. Memasuki jenjang SMA, Waisal tetap melanjutkan semangat bermusiknya dengan band yang sama.Tahun 2019 menjadi momen yang berkesan ketika ia bersama band-nya diundang tampil di RRI Jambi dalam acara live music.

Selepas SMA ,perjalanan hidup Waisal membawanya ke Panti Sosial Bina Netra Tuasakato Padang, sebuah tempat pelatihan bagi penyandang tunanetra. Selama dua setengah tahun, ia belajar banyak hal. Tak hanya tentang kemandirian, tetapi juga tentang cara memaknai hidup dengan lebih luas.

Kini, di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Waisal tetap setia dengan musik dan berbagai kegiatan sosial. Ia aktif di Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) serta Forum Komunitas Yayasan Teman Kecil, sebuah wadah dan ruang hangat yang mempertemukannya dengan sesama, yang rutin mengadakan pertemuan dua kali setiap pekan, setiap Jumat sore secara langsung dan Minggu selepas Asar melalui layar daring. Selain itu, ia juga bergabung dalam organisasi kampus Geska Sutha Voice, tempatnya menyalurkan minat dan bakat bermusik bersama rekan-rekan kampus.

Menutup perbincangan,Waisal menyampaikan pesannya dengan penuh semangat, seolah ingin menularkan keyakinan dan optimisme kepada siapapun yang mendengarnya.

“Saya berharap teman-teman disabilitas di luar sana tetap semangat,” ujarnya. “Apa pun yang terjadi dan seberat apa pun tantangannya, jangan pernah menyerah.”

Dari seorang anak SMP yang jatuh cinta pada musik, hingga kini menjadi mahasiswa yang tetap teguh mengejar harmoni dalam hidup, Waisal membuktikan bahwa mata memang tak selalu harus melihat untuk bisa memaknai keindahan. Karena bagi Waisal, keindahan sejati datang dari hati dan terdengar paling jujur lewat nada-nada yang ia mainkan.

Piano menjadi jembatan yang menghubungkan dirinya dengan dunia. Setiap nada yang ia mainkan adalah bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah harmoni kehidupan.

Pos terkait