JBCNEWS.ID – Di tengah hiruk pikuk aktivitas perdagangan Pasar Kota Jambi, berdiri kokoh sebuah masjid tua yang telah menjadi bagian penting sejarah perkembangan Islam di daerah itu. Masjid Raya Magat Sari menjadi salah satu masjid tertua yang masih aktif digunakan hingga kini.
Masjid yang berada di Kelurahan Orang Kayo Hitam, Kecamatan Pasar, Kota Jambi ini diperkirakan rampung dibangun sekitar tahun 1906, pada masa akhir perjuangan Sultan Thaha dalam melawan kolonialisme Belanda.
Berdiri di Atas Tanah Wakaf Sejak Abad ke-19
Menurut catatan sejarah, lokasi masjid merupakan tanah wakaf milik Syeh Hasan bin Ahmad Bafadhal. Tanah tersebut diperoleh secara turun-temurun sejak 1279 Hijriah atau sekitar 1850-an Masehi, pada masa pemerintahan Kesultanan Jambi di bawah Pangeran Mangku Negara.
Pada awal pembangunannya, masjid memiliki ukuran sekitar 30 x 30 meter. Struktur bangunan ditopang empat tiang utama atau soko guru yang terbuat dari kayu bulian, kayu khas Sumatra yang dikenal kuat dan tahan lama.
Empat soko guru tersebut melambangkan empat pedoman utama dalam Islam, yakni Al-Qur’an, hadis, ijma, dan qiyas.
Arsitektur Khas dan Renovasi Berkala
Ciri khas Masjid Raya Magat Sari terlihat pada atap sirap berbentuk tumpeng serta ornamen kaligrafi yang menghiasi bagian dalam bangunan. Pada masa awal, menara azan dibuat dari bambu dengan atap sederhana.
Seiring waktu, masjid mengalami sejumlah renovasi akibat faktor usia maupun dampak peristiwa sejarah. Bangunan ini pernah mengalami kebakaran pada era kolonial Belanda, sehingga direnovasi pada 1923 dan 1937.
Renovasi kembali dilakukan pada 1950, kemudian pada 1970 dan 1992. Kini, masjid berdiri permanen dengan konstruksi beton, memiliki dua lantai dan luas lebih dari 1.200 meter persegi.
Lantai pertama digunakan untuk jamaah laki-laki, lengkap dengan mimbar dan ruang imam. Sementara lantai dua diperuntukkan bagi jamaah perempuan dan kegiatan keagamaan seperti majelis taklim serta penyaluran bantuan sosial.
Pilar Kehidupan Sosial Keagamaan
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Raya Magat Sari juga menjadi pusat aktivitas sosial dan dakwah masyarakat sekitar. Majelis Ilmu Al Khair Wal Barokah rutin digelar setiap pekan.
Bendahara masjid, Syafiq Anis Al Muhdhor, menyebut keberlangsungan masjid tidak lepas dari semangat gotong royong warga dan para pedagang di sekitar kawasan pasar.
Dana operasional masjid berasal dari wakaf, sumbangan masyarakat, serta dukungan pemilik toko di sekitar bangunan. Bahkan, sejumlah pedagang non-Muslim turut merasakan manfaat keberadaan masjid sebagai bagian dari harmoni sosial di kawasan tersebut.
Misteri Asal-usul Nama
Asal-usul nama “Magat Sari” memiliki beberapa versi. Ada yang menyebut berasal dari nama seseorang, seperti Nan Magat atau Nagatsari. Versi lain menyatakan nama tersebut merujuk pada kampung tempat masjid didirikan.
Terlepas dari berbagai versi, nama Magat Sari telah lama melekat sebagai identitas masjid yang menjadi simbol perkembangan Islam di Kota Jambi.
Lebih dari satu abad berdiri, Masjid Raya Magat Sari tidak hanya menjadi saksi sejarah perjuangan dan perkembangan Islam, tetapi juga tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai ruang spiritual di tengah denyut ekonomi Pasar Kota Jambi.






