JBCNEWS.ID- Gabungan warga yang terdiri dari Kelurahan Aur kenali, Kota Jambi, Desa Mendalo Darat, serta Mendalo laut, Muaro Jambi, Jambi gelar Istighosah Akbar. Acara ini bertajuk “Menolak Jalan Angkut dan Stokpile Batubara” yang berlangsung pada Sabtu malam (14/02/2026), di Masjid Al Munawaroh, Aur Duri.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penolakan pembangunan tempat penyimpanan sementara batubara (stocpile), yang berada di Aur Kenali, Telanaipura, Kota Jambi.
Warga Aur Kenali dan sekitarnya tegas menolak rencana pembangunan jalan khusus batubara dan stockpile tersebut, karena menilai proyek itu akan merusak lingkungan dan berdampak buruk bagi kesehatan.
Lokasi pembangunan berada di zona pemukiman padat, bukan kawasan industri. Hal ini bertentangan dengan Peraturan Daerah (Perda) Kota Jambi Nomor 5 Tahun 2024 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Perda ini secara tegas mengatur peruntukan ruang dan melarang aktivitas industri berat di wilayah tersebut.
Sekertaris Barisan Pejuang Rakyat (BPR), Dlomiri, mengajak kepada seluruh warga senantiasa tetap mendukung, tetap bersemangat untuk bersama-sama menolak daripada keberadaan stockpile ini.
Tidak hanya memberi semangat, Dlomiri juga menambahkan “seandainya pihak penentu kebijakan yang ada di daerah ini juga belum memberikan hasil, maka insyaallah kita akan berjuang sampai ke pusat. Bahkan mungkin sampai ke Senayan kita akan menggeruduk ke sana,” ujarnya.
Di samping itu, PT Sinar Anugrah Sukses (SAS) yang bertanggungjawab atas pembangunan stocpile dan jalan khusus batubara, terus berusaha agar proyeknya tetap berjalan. PT SAS mengaku telah memiliki izin lengkap.
Pihak PT SAS telah mengantongi Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR) dari Kementerian ATR/BPN sebagai landasan hukum kegiatan mereka.
Saat ini pembangunan jalan khusus batubara dan stocpile masih tertunda, karena protes warga pada pertengahan September 2025 lalu. Warga melakukan aksi pemblokiran jalan nasional Jambi-Riau.
Turut hadir di acara Istigosah, Kapriadi, mewakili Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Jambi. Ia mengaku mendukung perjuangan dan berada bersama masyarakat.
“Mudah-mudahan nanti untuk ke depan kita mungkin terhindar dari apa yang direncanakan oleh PT SAS. Secara resmi dan secara moral kami menolak keberadaan dari PT SAS atau stockpile,” ungkapnya.
Kegiatan berlangsung dengan baik, mulai dari penayangan film dokumenter tentang dampak Stocpile, membaca surah Yassin, zikir, doa bersama, dan di tutup dengan tausiyah.






