JBCNEWS.ID – Pemerintah Iran mengklaim telah terjadi kemajuan dalam proses negosiasi dengan Amerika Serikat (AS), meskipun ketegangan militer kedua negara terus meningkat dan ancaman serangan terbuka semakin menguat di kawasan Timur Tengah.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyebut bahwa pembicaraan antara Teheran dan Washington masih berjalan secara terstruktur. Ia menepis pemberitaan media yang dinilai membesar-besarkan situasi.
“Bertentangan dengan laporan media yang dibuat-buat, pengaturan struktural untuk negosiasi sedang berlangsung,” ujar Larijani, dikutip dari AFP, Minggu (1/2/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya aktivitas diplomatik global, termasuk pembicaraan di Moskow yang melibatkan Rusia. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menegaskan bahwa negaranya tidak menginginkan perang terbuka dengan Amerika Serikat.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, Pezeshkian menyatakan konflik berskala besar hanya akan membawa kerugian bagi semua pihak.
“Republik Islam Iran tidak pernah menginginkan perang dan meyakini konflik tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, maupun kawasan,” tegas Pezeshkian.
Dari pihak Washington, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa komunikasi dengan Iran masih berjalan, meski AS telah mengerahkan armada militer ke kawasan Teluk.
“Mereka sedang berbicara dengan kami. Kita lihat apakah bisa ada kesepakatan. Jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi,” ujar Trump.
Ketegangan meningkat setelah AS mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta armada tempur ke perairan dekat Iran. Langkah ini memicu kekhawatiran akan konfrontasi langsung, terutama setelah Trump mengancam intervensi menyusul tindakan keras pemerintah Iran terhadap aksi protes domestik.
Iran telah memperingatkan bahwa mereka akan membalas dengan serangan rudal terhadap pangkalan militer, kapal, serta sekutu AS—termasuk Israel jika Washington melancarkan serangan.
Kepala Angkatan Darat Iran Amir Hatami menegaskan pasukan Iran berada dalam kesiapan penuh.
“Jika musuh melakukan kesalahan, itu akan membahayakan keamanan mereka sendiri dan kawasan. Teknologi serta keahlian nuklir Iran tidak bisa dihilangkan,” ujarnya.
Meski demikian, Iran menyatakan tetap terbuka untuk perundingan nuklir, dengan syarat program rudal dan sistem pertahanan tidak dimasukkan dalam agenda pembahasan.
Di tengah situasi panas tersebut, Iran juga membantah sejumlah insiden yang dikaitkan dengan sabotase, termasuk ledakan di pelabuhan Bandar Abbas yang diklaim terjadi akibat kebocoran gas, bukan serangan.
Ketegangan AS–Iran pun kini berada di persimpangan antara jalur diplomasi dan potensi konflik militer, dengan dunia internasional terus memantau perkembangan negosiasi kedua negara.






