IHSG Rontok dan Trading Halt, Ekonom Curiga Ada Permainan di Balik Rilis Riset MSCI

FOTO/ILUSTRASI IHSG

JBCNEWS.ID – Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berujung pada trading halt di Bursa Efek Indonesia (BEI) memicu kecurigaan adanya permainan besar di balik rilis riset Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ekonom Yanuar Rizky menilai sentimen negatif yang dilepas MSCI datang pada waktu yang tidak wajar, yakni saat pasar modal Indonesia sedang rapuh.

Menurut Yanuar, MSCI sejatinya sudah lama mengetahui persoalan klasik pasar modal Indonesia, seperti rendahnya free float, konsentrasi kepemilikan saham, dan masalah likuiditas. Namun ia mempertanyakan mengapa isu tersebut baru dilempar ke publik ketika IHSG berada dalam tekanan berat.

“MSCI itu hanya lembaga riset, bukan pelaku trading. Tapi pertanyaannya, siapa pemegang saham MSCI di atas 5 persen? Mayoritasnya hedge fund global seperti Vanguard dan BlackRock,” ujar Yanuar .

Ia menjelaskan, pemegang saham besar MSCI didominasi oleh hedge fund internasional, yang juga menjadi pemain utama di pasar keuangan global. Kondisi ini membuat laporan MSCI berpotensi menjadi alat legitimasi tekanan pasar terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia.

“MSCI hidup dari menjual riset ke investor institusional dan hedge fund. Jadi laporan itu bisa dipakai untuk menekan pasar. Jangan jadi serigala berbulu domba,” tegasnya.

Sebelumnya, MSCI menyampaikan kekhawatiran terhadap investability pasar saham Indonesia, mulai dari terbatasnya likuiditas, tipisnya saham free float, konsentrasi kepemilikan, hingga inkonsistensi kebijakan regulator. Pernyataan tersebut langsung direspons pasar dengan aksi jual besar-besaran pada saham berkapitalisasi jumbo.

Akibat tekanan jual yang masif, IHSG mengalami penurunan tajam hingga memaksa BEI menerapkan penghentian sementara perdagangan (trading halt) guna meredam kepanikan investor.

Yanuar menilai situasi global saat ini mirip dengan era perang ekonomi dekade 1980-an, di mana instrumen keuangan digunakan sebagai alat tekanan politik dan ekonomi antarnegara. Karena itu, ia mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar mewaspadai manuver hedge fund di pasar keuangan nasional.

“Permainan hedge fund ini nyata. Presiden tidak boleh menganggap remeh tekanan pasar keuangan global terhadap Indonesia,” pungkasnya.

Pos terkait